Anda mungkin pernah mendengar istilah itu bukan ? Ya, ketiga kata tersebut lekat dengan kondisi jiwa kita sebagai manusia biasa. Dalam interaksi sosial, kita sering menjumpai dan merasakan dampak ketiga sifat tersebut. Terkadang memberi kesan menjengkelkan, kebencian mendalam atau bahkan ujud dari nilai keterpaksaan bahkan keputus asaan. Jika yang melakukannya kita sendiri maka tentu kesan yang muncul adalah khilaf kita, keterpaksaan atau kondisi di luar kemampuan seseorang hingga harus berbuat seperti itu.
Orang Fasiq adalah orang yang mengetahui dan meyakini supermasi nilai kebenaran, tetapi dalam kehidupan ia malas mengikutinya terutama jika bertentangan dengan dorongan nafsu syahwat atau kesenangan emosi belaka. Demi kenikmatan hidup ia enteng saja untuk melanggar nilai-nilai kebenaran, meski ia tahu bahwa hal itu buruk (hedonia). Meski demikian ia berharap hanya dirinya yang fasiq dan di dalam hatinya ia berharap agar anaknya tidak menirunya kelakuan buruknya kelak.
Adapun orang kafir adalah kebalikan dari orang mukmin. Jika orang mukmin berpegang konsisten terhadap kebenaran yang yang diimaninya dalam keadaan apapun, orang kafir konsisten dalam hal tidak mempercayai kepada nilai-nilai kebenaran. Secara terbuka ia menyatakan tidak percaya kepada Tuhan, kepada dosa dan kepada kebajikan. Ia hidup menurut ukuran budaya di mana mereka berada, tidak percaya kepada nilai yang bersumber dari wahyu gaib. Ia berbangga dengan kekafirannya dan berusaha mengajak orang lain bergabung dalam kelompoknya seraya memperolok-olok kepercayaan orang beriman.
Sedangkan orang munafik, karakteristiknya dapat disebut orang bermuka dua, berbeda antara kata dan perbuatannya. Jika orang kafir secara terbuka menyatakan kekafirannya, orang munafik justru menyembunyikan kemunafikannya. Secara lahir ia perlihatkan perilaku seakan-akan ia sama dengan orang mukmin yaitu mempercayai nilai-nilai kebenaran, padahal yang sebenarnya ia tidak percaya dan berusaha melecehkan kebenaran di belakang penglihatan orang mukmin.
Orang munafik tak ubahnya musuh dalam selimut, sehari-hari ia bersama kita padahal ia memusuhi kita, mencuri peluang untuk mencelakakan kita. Tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu (1) jika berkata dusta, (2) Jika berjanji ingkar, (3) jika dipercaya khianat.
Karena kualitas itu bersifat psikologis, maka jarak antara satu kualitas dengan kualitas yang lain tidaklah seterang warna hitam dan putih. Oleh karena itu seorang mukmin -tentu selain para sahabat Nabi SAW-boleh jadi pada dirinya terdapat karekteristik fasiq, nifaq atau bahkan kufur. Seorang mukmin ketika sedang tersinggung misalnya, karena dorongan ingin mempertahankan harga dirinya bisa saja terjadi mengalami distorsi iman, yakni imannya mengalami penipisan sehinga ia melakukan perbuatan kufur. Sama halnya seperti orang pandai terkadang melakukan perbuatan bodoh.
Sedangkan orang munafik, karakteristiknya dapat disebut orang bermuka dua, berbeda antara kata dan perbuatannya. Jika orang kafir secara terbuka menyatakan kekafirannya, orang munafik justru menyembunyikan kemunafikannya. Secara lahir ia perlihatkan perilaku seakan-akan ia sama dengan orang mukmin yaitu mempercayai nilai-nilai kebenaran, padahal yang sebenarnya ia tidak percaya dan berusaha melecehkan kebenaran di belakang penglihatan orang mukmin.
Orang munafik tak ubahnya musuh dalam selimut, sehari-hari ia bersama kita padahal ia memusuhi kita, mencuri peluang untuk mencelakakan kita. Tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu (1) jika berkata dusta, (2) Jika berjanji ingkar, (3) jika dipercaya khianat.
Karena kualitas itu bersifat psikologis, maka jarak antara satu kualitas dengan kualitas yang lain tidaklah seterang warna hitam dan putih. Oleh karena itu seorang mukmin -tentu selain para sahabat Nabi SAW-boleh jadi pada dirinya terdapat karekteristik fasiq, nifaq atau bahkan kufur. Seorang mukmin ketika sedang tersinggung misalnya, karena dorongan ingin mempertahankan harga dirinya bisa saja terjadi mengalami distorsi iman, yakni imannya mengalami penipisan sehinga ia melakukan perbuatan kufur. Sama halnya seperti orang pandai terkadang melakukan perbuatan bodoh.
- Buku Pedoman Pengelolaan Majlis Ta'lim ; Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan anda berkomentar dengan santun dan baik dengan tidak melakukan komentar spam