Pelajaran Menarik Tentang Bahayanya Sifat Munafik
Hadits Al-Ifky atau berita bohong adalah peristiwa tragis yang secara khusus menyangkut martabat Siti Aisyah Ra. Dalam khazanah pemikiran Islam Sunny -secara kuat- diyakini bahwa semua perkawinan yang dilakukan Rasulullah SAW terhdap wanita yang dipilihnya adalah didasarkan atas perintah dan nilai-nilai keagamaan (mengandung rahasia hukum agama/Asraar al-Tasyri'). Begitupun ketika Nabi SAW merajut biduk rumah tangga dengan Siti Aisyah. Pernikahan ini amat sarat dengan kesejukan wahyu dan keagungan syari'at.
Siti Aisyah yang dinikahi Nabi SAW pada usia belia,karena didikan Allah melalui alam nubuwwah Rasulullah dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Sejak menikah itu dalam hati Siti Aisyah tidak ada orang yang paling dihormati, dicintai sekaligus disayangi selain Rasulullah Muhammad SAW sendiri dan keluarganya. Peran psikologis kedua orang tuanya secara otomatis tergantikan oleh Rasulullah. Seperti halnya Siti Khadijah yang amat sempurna melengkapi kesempunaan rumah tangga dengan Rasulullah, Siti Aisyah pun dipandang cukup sempurna menemani biduk kehidupan Rasulullah SAW. Dia berperawakan sedang, ramping dan rupawan dan tentu masih belia. Sungguh amat bahagia rumah tangga Rasulullah SAW dengan Aisyah Ra.
Keteladanannya dalam membantu pemahaman dakwah Islamiyah menempatkan beliau sebagai salah satu Ummahat al-Mu'minin yang populer sekaligus utama.
Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).
Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.
Keteladanannya dalam membantu pemahaman dakwah Islamiyah menempatkan beliau sebagai salah satu Ummahat al-Mu'minin yang populer sekaligus utama.
Pada saat peristiwa Hadits al-Ifky ini terjadi, usia beliau Siti Aisyah Ra masih dalam hitungan belasan tahun. Sampai kemudian kabar bohong itu menimpa dirinya sebagai istri Rasulullah SAW. Tepatnya terjadi seusai perang dengan Bani Mushthaliq di bulan Sya'ban tahun 5 Hijriyyah.
Dalam peperangan ini sebagian kaum munafikin dapat menilisik masuk ke dalam barisan pasukan kaum muslimin. Atau dengan kata lain peperangan ini diikuti pula oleh orang-orang munafik.
Dalam perjalanan seusai perang itu, rombongan berhenti pada suatu tempat karena Siti Aisyah ada keperluan keluar dari sekedup (Haudaj) nya untuk satu hajat kemudian kembali. Namun tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia kembali untuk mencarinya.. Sementara itu rombongan berangkat kembali seperti sediakala dan sperti tidak terjadi apa apa, dengan anggapan bahwa Siti Aisyah sudah berada dalam sekedup itu. Setelah Siti Aisyah mengetahui bahwa sekedupnya sudah berangkat, beliau kemudian duduk di tempatnya semula dan berharap sekedupnya akan kembali menjemputnya.Kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi yang bernama Shafwan bin Mu'aththal al-Sulamy. Shofwan adalah seorang sahabat Nabi SAW yang jika pulang seusai perang ia pulang paling belakangan. Demikian ini karena ia memiliki kebiasaan memeriksa,mencari-cari kalau-kalau ada peralatan, barang bawaan dan senjata kaum muslimin yang tertinggal.
Demi dilihatnya ada seseorang yang tertidur, Shafwan terkejut seraya membaca Istirja' ; Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'uun. Bacaan istirja' ini kemudian membangunkan Siti Aisyah Ra. Lalu Siti Aisyah dipersilahkan naik unta, sedangkan Shafwan menuntun unta itu sampai kemudian mereka berdua tiba di Madinah.
Setiba di Madinah persepsi orang berbeda-beda berdasarkan pandangan masing-masing. Maka mulailah timbul desas desus dan fitnah yang dilancarkan golongan munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Fitnah itu semakin hari semakin besar dan meluas. Mengakibatkan keguncangan di kalangan kaum muslimin. Hari-hari yang penuh kepahitan ini dilalui oleh Siti Aisyah dengan deraian air mata. Bahkan pernah terjadi dua hari satu malam air mata beliau yang mulia tidak pernah berhenti menetes hingga Siti Aisyah beranggapan bahwa tangisan itu telah memburaikan hatinya.
Peristiwa berita bohong ini begitu berat diterima oleh Siti Aisyah Ra. Sebagai orang yang masih muda belia dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mewakilkan hak bicara dari persoalan ini kepada kedua orang tuanya Abu Bakar Shiddiq dan Ummu Rumman Radliyallahu Anhuma dan berserah diri pada putusan Allah SWT.
Lebih dari satu bulan lamanya Nabi Muhammad SAW mendiamkan Siti Aisyah Ra, dalam pertemuan-pertemuan konfirmatif pun Nabi Muhammad SAW menjauhkan diri dari tempat duduk Siti Aisyah Ra. Air muka Nabi Muhammad SAW sendiri masam dan kusut. Lebih parah lagi peristiwa berita bohong ini hampir menyulut perpecahan dan perang antara suku Aus dan Khazraj, perpecahan dalam keluarga mulia Abu Bakar Shiddiq Ra karena menyeret nama Misthah ibn Utsatsah (anak bibi dari Abu Bakar Shiddiq Ra) ke dalam golongan Abdullah Bin Ubay Bin Salul. Namun Allah Maha Waspada dan masih melindungi kesucian Ahl al-Bait dengan turunnya QS.Al-Nuur : 24 yang menegaskan tentang kehormatan dan kesucian Aisyah dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Siti Aisyah benar, tidak salah dan terhormat serta mulia namanya. sedangkan golongan munafik adalah tercela hina serta mendapat siksa baik dunia lebih-lebih akhirat.
Dari fenomena Hadits Ifky ini Allah kiranya memberikan keadilan. Dengan izin dan kehendak-Nya Misthah di akhir hayatnya buta, Hisan menjadi buta dan lumpuh sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul dihukum langsung oleh Rasulullah SAW dan neraka menanti Ibn Ubay.
- Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhary, Shahih al-Bukhary Juz 2 . Mesir : Maktabah Nashiriyyah,tt.
- Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Ibn Araby Al-Tanari Al-Jawi, Al-Tafsiir al-Munir Li Ma'aalim al-Tanziil.Libanon : Dar Al-Fikr, 1980
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan anda berkomentar dengan santun dan baik dengan tidak melakukan komentar spam