Bila ada suatu hal yang bisa membuat kita berbangga atas status iman Islam kita, maka jawabannya adalah bahwa di dalam agama Islam ada bulan yang agung yaitu bulan Ramadlan. Ya kita menganggap bulan ini laksana tamu agung karena ia pun dijuluki penghulu dari bulan-bulan lainnya (Sayid Al-Syuhuur).
Berikut ini nama-nama istimewa bagi bulan Ramadlan :
- Syahrun-Mubarak
Dikatakan sebagai Syahrun Mubarak karena seluruh kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan keteduhan yang luar biasa dari Allah SWT jika dibandingkan dengan kondisi yang dirasakan pada bulan-bulan selainnya. Indikasi adanya rasa tenang dan damai itu dapat kita temukan pada sikap ,kebiasaan dan kondisi secara umum yang dialami oleh orang-orang yang berpuasa seperti merasakan selera makan yang teramat istimewa meski menu yang tersaji sifatnya biasa-biasa saja. Demikian ini karena timbulnya perasaan khusus pada kesempatan yang khusus pula ,pikiran jadi tenang,hati senang,mental ibadah pun menjadi kuat serta, solidaritas dan toleransi sesama pun menjadi teguh. Pendek kata semua peristiwa yang identik dengan kemaslahatan dan amal sholeh menjadi bertambah (Ziyaadat Al-Khair). Bertambahnya kebaikan dan ketenangan dalam bahasa agama kita kenal dengan istilah Barakah.
- Syahr Al-Ibadat
Grafik kesadaran beribadah kaum muslimin dan muslimat pada bulan ini cenderung meningkat. Kesadaran beribadah ini ditunjukkan melalui berbagi pelaksanaan ritual keagamaan yang bersifat variatif dan masif. Secara sederhana dapat kita sebutkan contohnya adalah adanya peningkatan jumlah jama’ah shalat baik fardlu maupun sunnah. Khusus untuk pelaksanaan shalat sunnah tarawih dan witir kecenderungan ini semakin jelas ditandai dengan penuhnya surau-surau, mushalla dan masjid-masjid dengan jama’ah. Bahkan sebagian jama’ah itu ada yang meluber ke luar.
Didukung oleh penyampaian dakwah yang informatif oleh para muballigh semangat atau ghirah kaum muslimin pun meningkat tinggi. Mereka menjadikan bulan ini sebagai bulan peningkatan amal ibadah, kualitas dan kuantitas taqwa kepada Allah SWT.
Pemahaman ibadat dalam konteks yang lebih luas dan variatif oleh kaum muslinin dapat kita jumpai misalnya pada moment-moment sosial keagamaan dan kesenian (baca:Islami). Dari mulai Tilawah, Sedekah-sedekah, Kegiatan Santuan, Buka Puasa Bersama, Kajian Keislaman sampai kepada penyelenggaraan kontes-kontes seni dan budaya Islam seperti Lomba Busana muslim-muslimah, Kontes Baca Shalawat sampai kontes Genjring atau Rebana. Semua kegiatan tersebut diyakini sebagai kegiatan yang bernilai ibadah (ta’abbudy) bahkan fahala semua perbuatan baik di bulan ini akan dilipat gandakan.
- Syahr Al-Sa'adat
Secara eksplisit Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam salah satu hadits yang artinya :
“ Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadlan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.” (Al-Hadits)
Rasa senang dalam konteks ini adalah senang lahir bathin. Hati yang terbuka penuh ikhlas menjalani ibadah di dalamnya. Secara jelas pula pengertian rasa senang itu karena dua hal yakni pertama; rasa senangnya kaum muslimin ketika hendak berbuka puasa dan senang yang kedua ; adalah gembira karena akan bertemu dengan Rabbnya (Allah SWT).
Jika kegembiraan yang pertama identik dengan hal-hal fisik semisal senang makan dan minium selepas lapar dan dahaga seharian penuh, maka senang yang kedua adalah karena kelezatan yang tiada tara (psikis) yaitu dapat melihat Cahaya Dzat Allah SWT dengan mata kepala .
Begitu pun rasa senang ini jika dikaitkan dengan waktu maka jika senang yang pertama bersifat kekinian dan sementara, maka rasa senang karena bertemu dengan Allah itu terjadinya nanti di akhirat kelak dan bersifat selama-lamanya.
Baik senang dalam artian pertama maupun senang dalam arti yang kedua sesungguhnya bila kita renungkan dan cermati itu merupakan janji yang diberikan Rasulullah SAW kepada umatnya sekaligus jaminan kehidupan pada masa depan (akhirat) sebagai penghuni surga.
Jika sedemikan menakjubkannya hikmah dan dimensi spiritul ibadah puasa itu, maka sudah adakah penghayatan keagamaan yang mendalam di sanubari kaum muslimin muslimat ? inikah kiranya yang masih menjadi tugas kita bersama.
Tanpa bermaksud menggeneralisir persoalan terkait perbedaan pengalaman spiritual kita masing-masing pada bulan Ramadlan,ternyata esensi ajaran di bulan mulia ini telah banyak dilupakan justru oleh sebagian besar kaum muslimin.
Perubahan sikap dan perilaku dari sederhana beralih ke konsumtif ketika memasuki fase-fase akhir Ramadlan, semisal selera dan pemilihan jenis makanan ,pakaian ,fashion, bahkan urusan wisata di saat moment puncak Idul Fithri sungguh telah mengubah pola pikir dan budaya kaum musimn itu sendiri. Seolah olah mau langsung melupakan ajaran mulia di bulan suci Ramadlan mereka cenderung menghargai ceremonial Idul Fithri ,padahal sejatinya Idul Fithri dijadikan moment hidup sederhana , mempertinggi nilai akal budi, mempertajam nurani serta mempersubur semaian spiritual Islam.
Syaikh Nawawi Al-Bantani ketika menafsirkan QS.
Beliau menyitir perilaku dan prinsip hidup para sahabat nabi Muhammad SAW dengan mengatakan :
“Shahabat-shabat Rasulullah SAW itu tidak pernah makan makanan karena kelezatannaya,tidak pernah memakai pakaian karena keindahan dan pernak perniknya. Tetapi mereka itu makan hanya demi menghilangkan rasa lapar dan membantu mereka bisa berdiri tegak beribadah kepada Allah. Dan memakai pakaian sekedar menutupi aurat serta mejaga kondisi tubuh dari cuaca panas dan dingin “1)
Soal perubahan perilaku kaum muslimin pasca Ramdalan ini tentunya menjadi buah pikiran kita bersama. Dan dalam hemat penulis ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan pola hidup dan sikap mental tersebut. Berikut ini sebab- sebab tersebut disertai uraian solusinya yaitu :
1. Pengaruh Globalisasi Dunia
Pengaruh glabalisasi memang masih menjadi faktor utama perubahan perilaku. Utamanya merebaknya sikap hidup hedonis materialis sampai kepada sikap indvidualistis.
2. Perilaku Para Elit Pejabat Negara dan Daerah sesuai tingkatan masing-masing.
Tingkah polah para pejabat kita yang cenderung amat individualistik menjadi contoh efektif mewabahnya sikap mental negatif ini. Kita kadang tidak habis pikir justru pejabat-pejabat yang beragama Islamlah kebanyakan yang menjadi pelakunya. Mereka ini rata-rata sudah mencapai derajat pangkat dan golongan kepegawaian yang tinggi, bahkan mereka rata-ratanya juga sudah berhaji atau malah berkali-kali haji. Tetapi justru mereka menjadi penghuni jeruji besi yang dingin (penjara)
3. Pemanfaatan Media Publik bagi Penyampaian Pesan-pesan Moral Keagamaan yang Belum Efektif.
Masyarakat kita ini bagaimana pun masih menghargai adat ketimuran yang salah satu contohnya adalah menghargai pemimpin sepanjang peminpin itu bisa menjadi teladan.
Jika di awal-awal puasa ajakan dan himbauan menghormati datangnya bulan puasa, mengisi kegiatan keagamaan dengan amaliah yang baik di dalamnya, perlunya toleransi dan tenggang rasa terhadap orang yang berpuasa di sampaikan oleh para tokoh nasional utamanya para pemimpin masing-masing Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Persis, Muhamadiyah, PUI, Al-Irsyad atau pun yang lainnya maka masyarakat ditinggkat bawah itu mendapat sentuhan moral sekaligus merasa terkontrol dan terbimbing jiwanya.
Hal ini amat berbeda dirasa manakala jumlah kuantitas penyampaian dakwah yang berbarengan dengan ikalan yang justeru durasi iklannya lebih banyak. Maka kesan nilai informasinya jelas terbalik. Oleh karenanya sekali lagi perlunya tampilan langsung dari para pemimpin Ormas kepada ummat organisasinya.
4. Penamanam dan Pengamalan Kembali Penghayatan Nilai-nilai Agama.
Tentu, diskusi panjang kita akan sia-sia saja jika unsur yang terkahir atau keempat ini terabaikan. Karena berdasarkan pengalaman di lapangan munculnya sikap yang bias terhadap agama dikalangan masyarakat kita itu karena pemahaman dan pengamalan agama yang monoton dan miskin. Umat dengan kondisi ketaatan agama yang kurang lah yang menjadi pendorong kuat atas tarik ulurnya perpaduan dan perubahan agama dan gaya hidup masyarakatnya.
Haran kita dengan mengkritisi dan mengevaluasi keempat faktor di atas kiranya ajaran Ramadlan yang mendatangkan keberkahan, kedamaian,ketenangan dan ketaqwaan bisa terwujud. Amiiin
Foot Note : 1) Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Ibn Araby Al-Jawi, Tafsiir Al-Muniir Fi Ma'alim Al-Yanziil Juz 2, Lubnan : Dar Al-Fikr.1980
Foot Note : 1) Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Ibn Araby Al-Jawi, Tafsiir Al-Muniir Fi Ma'alim Al-Yanziil Juz 2, Lubnan : Dar Al-Fikr.1980
Ramadlan, 26-1432 H
Agustus, 26-2011M
Agustus, 26-2011M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan anda berkomentar dengan santun dan baik dengan tidak melakukan komentar spam