Senin, 29 Agustus 2011

KHUTBAH IDUL FITHRI 1 SYAWAL 1432 HIJRIYAH :TIGA KEBAHAGIAAN DALAM MERAYAKAN IDUL FITHRI

Allahu Akbar 3X
Walillahilhamd.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia nan penuh khidmat ini, kita berkumpul di sini bersimpuh dengan penuh kerendahan jiwa di hadapan Allah SWT Yang Maha Kuasa yang telah melimpahi kita  berbagai nikmat, utamanya nikmat iman dan Islam.Kita bersimpuh dengan penuh kekhusyuan dan hati yang hadir karena Dia Allah SWT telah memberi perkenan dan izin-Nya kepada kita untuk bertemu dan beribadah sebulan penuh di bulan suci Ramadlan 1432 H.  Puncak dari ibadah itu sendiri adalah terdengarnya lantunan takbir , tahmid, tasbih, dan tahlil yang sayup-sayup sampai, bersahut-sahutan dan membahana membelah angkasa raya. Takbir,tahmid,tasbih dan tahlil itu sejatinya tidak hanya dilakukan oleh kita khusunya dari kalangan muslimin sebagai makhluq Allah SWT yang hidup, tapi turut juga mengiringi takbir kita adalah takbir, tasbih dan tahlil dari tetumbuhan, pepohonan,bebatuan, air, dan daratan, langit dan bumi serta semesta alam bertakbir memuji kebesaran dan kemuliaan Allah SWT yang Maha Suci. Allahu Akbar,Allahu Akbar, Allahu Akbar tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah SWT.

Ma'asyiral Mukminin Rahimakumullah

Tidak terasa satu bulan penuh kita menjalankan ibadah puasa Ramadlan di tahun 1432 H ini. Selama satu bulan kita telah berhasil menahan lapar dan dahaga dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Di saat bulan penuh berkah, ampunan dan rahmat ini telah pergi alhamdulillah di pagi yang penuh keceriaan dan kebahagiaan ini kita dijumpakan Allah SWT dengan hari suci Hari Raya Idul Fithri 1 Syawal 1432 Hijriyyah. Hari penuh kebahagiaan dan kesenangan.

Bila pada saat yang mulia ini ada yang bertanya ," Kegembiraan apa dan oleh sebab gembira apa kita patut merayakannya saat Idul Fithri tiba? Apakah sekedar datang dan berlalunya 'suatu hari' tanpa satu arti laksana hari-hari biasa yang berlalu dalam kehidupan kita ? Atau ada satu keistimewaan yang patut kita rayakan di dalamnya?

Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini selaku khatib saya akan mengupas 3 (tiga) kebahagiaan atau rasa gembira dalam memperingati Idul Fithri 1 Syawal 1432 H sebagai berikut : Bahagia karena kita berjumpa dengan bulan yang penuh kebahagiaan (Al-Sa'adat), bahagia karena dapat berbagi kepada sesama  dan bahaia karena bisa bersilaturahmi dan saling bermaafan .


Kebahagiaan yang pertama, yaitu Sempurna menjumpai dan beribadah di bulan Ramadlan.
Ma'asyiral Hadirin Rahimakumullah

Kita sudah memahami bersama bahwa kondisi bahagia dalam situasi apapun adalah hal yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram damai dan sejahtera. Dalam mencapai kebahagiaan ini ada dua macam pola dan watak umum manusia yaitu yang pertama jenis orang yang bekerja keras, peras keringat dan banting tulang untuk menghimpun harta sebanyak-banyaknya tanpa sadar dan ingat sama sekali akan dimensi agama atau ibadah. Dalam benak pikiran mereka  hanya terlintas uang,uang dan uang melulu setiap hari. Kemudian kedua, yaitu orang yang dalam bekerja sadar betul urusan dunia dan akheratnya lalu ia berusaha menyeimbangkan dua poros  kebutuhan  tersebut. Maka dalam pikiran orang ini ada terbersit niat perlunya mengumpulkan kekayaan untuk bekal berjuang dan beribadah demi kehidupan selama-lamanya di akhirat kelak.

Kemudian ada juga orang yang meyakini untuk bahwa untuk mendapat kebahagiaan itu melalui tahta dan kekuasaan. Beragam cara ia lakukan untuk mendapat atau merebut kekuasaan. Sebab menurutnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaanya seseorang bisa berbuat banyak sesukanya. Orang sakit menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kesehatan. Orang mskin menyangka kebahagiaan terletak pada harta kekayaan.Rakyat jelata mengira kalau kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Serta sangkaan-sangkaan lainnya. Bila ini maslahnya patutlah pula kita bertanya, apakah yang dimaksud bahagia itu (happiness)?

Hadirin Rahimakullah Hadaniyallahu Wa iyyakum

Selama ribuan tahun para pemikir telah sibuk memperbincangkan makna kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia dan bersifat kondisional dan temporal. Jika seseorang sedang berjaya maka di situ ada kebahagiaan. Sebaliknya jika sedang jatuh maka hilanglah kebahagiaan. Dalam pandangan madzhab ini tidak ada kebahagiaan abadi dalam alam jiwa manusia. Kebahagiaan itu bersifat sesaat tergantung kondisi eksternal manusianya. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat; di mana mereka dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan tanpa merasa puas dan menetap dalam satu keadaan.

Lalu kebahagiaan macam apakah yang dimaksudkan Islam seperti terdapat dalam  spirit Ramadlan ?
Islam menyatakan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan itu bukan merujuk pada sifat material jasmani badani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari dan bukan pula dia itu sifat hayali insani yang hanya dapat dinikmati dalam alam pikir manusia belaka.

Kebahagiaan sejatinya adalah kemenangan iman, untuk hanya tunduk keharibaan Allah SWT. Al-Sa'adat atau bahagia adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan atau iman dan berperilaku sesuai dengan keyakinanya. Sahabat Rasulullah SAW seperti Bilal ibn Rabah Rd merasa bahagia dapat mempertahankan keimannya meskipun dalam keadaan selalu mendapat penyiksaan. Imam Abu Hanifah Ibn Tsabit pun merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke dalam penjara dan dicambuki setiap hari hanya karena menolak diangkat sebagai hakim negara. Para sahabat nabi yang lainnya pun mereka rela meninggalkan kampung halaman demi mempertahankan iman. Mereka semua bahagia hidup dan menjalani kehidupan dengan membawa iman hingga menemui Rabbnya. Inilah dimensi yang hendak disampaikan Islam dengan datanngnya bulan Ramadlan.

Allahu Akbar 3X
Walillahilhamd.
Kebahagiaan kedua adalah, dapat peduli dan berbagi terhadap sesama. Berbahagia dengan datanya Idul Fitri karena kita dapat mengeluarkan zakat fitrah. Kalau sejenak kita menengok maqasid atau tujuan dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat secara umum adalah ternyata ajaran Islam itu  di samping mengupayakan kesucian diri setiap manusia juga mengharap kesucian dan keberkahan harta benda yang dimilikinya. Allah berfirman :


" Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan-dan mensucikan-mereka"
(QS.Al-Taubah : 103)

Kalau demikian kenyataannya, maka kesempatan kita untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Kita telah diberi kesempatan untuk mensucikan jiwa sekaligus peduli sesama.Karena kebahagiaan dalam merayakan Idul Fithri juga berhak dirsasakan dan dirayakan oleh kaum miskin yang tidak memiliki makanan pokok pada hari raya.

Ma'asyiral Mukminin, sidang Shalat Ied Rh
Adapun kebahagiaan yang ketiga adalah kesempatan kita untuk bersilaturahmi dan bermaf-maafan.
Dewasa ini, hidup penuh tantangan dan terasa berat sekali. Dunia penuh ketidak pastian. Layaknya putaran roda, kadang kita di atas kadang pula harus di bawah. Atau laksana cuaca yang belakangan juga sulit diprediksi, susah ditebak apakah akan cerah, mendung, hujan,atau badai. Sepak terjang dalam dunia ekonomi, bisnis, politik maupun dinamika di tempat kerja pun sulit diramal.

Atas dasar interaksi sosial  seperti tersebut di atas kita tentu menyadari bahwa interaksi atau pola hubung keseharian antar kita dalam komunitas manusia selalu diwarnai oleh berbagai hal. Adakalanya baik, adakalanya buruk. Kadang damai kadang konflik. Dampak hubungan ini tidak selamanya menyakitkan sehingga memunculkan kebencian. Begitu juga tidak semuanya menyenangkan sehingga meninggalkan kecintaan. Pada saat - saat tertentu emosi,egoisme, dan kesombongan bisa saja menguasai diri kita.

Akibat buruk yang kita terima dari sikap orang lain, begitu juga kelakuan tidak bersahabat yang kita tunjukkan kepada orang lain baik sadar atau tidak harus dinetralisir dengan silaturahmi. Kita percaya bahwa Hari Raya Idul Fithri sebagai saat yang tepat untuk menetralisir atau paling tidak meminimalisir ketegangan hubungan antara kita selaku umat manusia. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : "Wahai manusia tebarkanlah kedamaian dan sambunglah persaudaraan" (HR. Ahmad dan Tirmidzi).


Sebagai akhir dari khutbah ini,kita berharap mudah-mudahan Idul Fithri kali ini merupakan saat yang dapat mengenmbalikan keimanan kita,di mana ia datang setalah kita menjalani proses latihan jiwa, mensucikan diri dengan harta dan upaya menyambung serta mempererat silaturahmi. Hingga kita berkesimpulan bahwa 3 kebahagiaan itu adalah anugerah Allah SWT yang wajib disyukuri. Allah berfirman :



" Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya sajalah, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik dari yang mereka kumpulkan. (QS.Yunus : 58)

Ja'alanallahu wa Iyyakum Minal 'Aaidiina Wal Faaiziin
Wa adkhalanaa Wa Iyyakum Fii Ibaadihis Shalihiiin
Waqul Rabbighfir Warham Wa Anta Khairur Raahimiin


Khutbah ini disampaikan pada Hari Raya Idul Fithri  1 Syawal 1432 Hijriyyah
Tanggal 31 Agustus 2011
Di Masjid Al-Huda Sukajadi Sukajati Haurgeulis Indramayu

Diolah dari Makalah  :
Ustadz Arwani Syaerozy dan Ustadz Abdul Lathief  pada www.pesantrenvirtual.com

Jumat, 26 Agustus 2011

Ramadlan Dan Upaya Evaluasi Moral Kaum Muslimin

Bila ada suatu hal yang bisa membuat kita berbangga atas status iman Islam kita, maka jawabannya adalah bahwa di dalam agama Islam ada bulan yang agung yaitu bulan Ramadlan. Ya kita menganggap  bulan ini laksana tamu agung karena ia pun dijuluki penghulu dari bulan-bulan lainnya (Sayid Al-Syuhuur).
Berikut ini nama-nama istimewa bagi bulan Ramadlan :
  • Syahrun-Mubarak
Dikatakan sebagai Syahrun Mubarak karena seluruh kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan keteduhan yang luar biasa dari Allah SWT jika dibandingkan dengan kondisi yang dirasakan pada bulan-bulan selainnya. Indikasi adanya rasa tenang dan damai itu dapat kita temukan pada sikap ,kebiasaan dan kondisi secara umum yang dialami oleh orang-orang yang berpuasa seperti merasakan selera makan yang teramat istimewa meski menu yang tersaji sifatnya biasa-biasa saja. Demikian ini karena timbulnya perasaan khusus pada kesempatan yang khusus pula ,pikiran jadi tenang,hati senang,mental ibadah pun menjadi kuat serta, solidaritas dan toleransi sesama pun menjadi teguh. Pendek kata semua peristiwa yang identik dengan kemaslahatan dan amal sholeh menjadi bertambah (Ziyaadat Al-Khair). Bertambahnya kebaikan dan ketenangan dalam bahasa agama kita kenal dengan istilah Barakah.
  • Syahr Al-Ibadat
Grafik kesadaran beribadah kaum muslimin dan muslimat pada bulan ini cenderung meningkat. Kesadaran beribadah ini ditunjukkan melalui berbagi pelaksanaan ritual keagamaan yang bersifat variatif dan masif. Secara sederhana dapat kita sebutkan contohnya adalah adanya peningkatan jumlah jama’ah shalat baik fardlu maupun sunnah.  Khusus untuk pelaksanaan shalat sunnah tarawih dan witir kecenderungan ini semakin jelas ditandai dengan penuhnya surau-surau, mushalla dan masjid-masjid dengan jama’ah. Bahkan sebagian jama’ah itu ada yang meluber ke luar.
Didukung oleh penyampaian dakwah yang informatif oleh para muballigh semangat atau  ghirah kaum muslimin pun meningkat tinggi. Mereka menjadikan bulan ini sebagai bulan peningkatan amal ibadah, kualitas dan kuantitas taqwa kepada Allah SWT.
Pemahaman ibadat dalam konteks yang lebih luas dan variatif oleh kaum muslinin dapat kita jumpai misalnya pada moment-moment sosial keagamaan dan kesenian (baca:Islami). Dari mulai Tilawah, Sedekah-sedekah, Kegiatan Santuan, Buka Puasa Bersama, Kajian Keislaman sampai kepada penyelenggaraan kontes-kontes seni dan budaya Islam seperti Lomba Busana muslim-muslimah, Kontes Baca Shalawat sampai kontes Genjring atau Rebana.  Semua kegiatan tersebut diyakini sebagai kegiatan yang bernilai ibadah (ta’abbudy) bahkan fahala  semua perbuatan baik di bulan ini akan dilipat gandakan.
  • Syahr Al-Sa'adat
Secara eksplisit Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam salah satu hadits yang artinya :
Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadlan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.” (Al-Hadits)

Rasa senang dalam konteks ini adalah senang lahir bathin. Hati yang terbuka penuh ikhlas menjalani ibadah di dalamnya. Secara jelas pula pengertian rasa senang itu karena dua hal yakni pertama; rasa senangnya kaum muslimin ketika hendak berbuka puasa dan senang yang kedua ; adalah gembira karena akan bertemu dengan Rabbnya (Allah SWT). 

Jika kegembiraan yang pertama identik dengan hal-hal fisik  semisal  senang makan dan minium selepas lapar dan dahaga seharian penuh, maka senang yang kedua adalah karena kelezatan yang  tiada tara (psikis) yaitu dapat melihat Cahaya Dzat Allah SWT dengan mata kepala .
Begitu pun rasa senang ini jika dikaitkan dengan waktu maka jika senang yang pertama bersifat kekinian dan sementara, maka rasa senang karena bertemu dengan Allah itu terjadinya nanti di akhirat kelak dan bersifat selama-lamanya.

Baik senang dalam artian pertama maupun senang dalam arti yang kedua sesungguhnya bila kita renungkan dan cermati itu merupakan janji yang diberikan Rasulullah SAW kepada umatnya sekaligus jaminan kehidupan pada masa depan (akhirat) sebagai penghuni surga.
Jika sedemikan menakjubkannya hikmah dan dimensi spiritul ibadah puasa itu, maka sudah adakah penghayatan keagamaan yang mendalam di sanubari kaum muslimin muslimat ? inikah kiranya yang masih menjadi tugas kita bersama.

Tanpa bermaksud menggeneralisir persoalan terkait perbedaan pengalaman spiritual kita masing-masing pada bulan Ramadlan,ternyata esensi ajaran di bulan mulia ini telah banyak dilupakan justru oleh sebagian besar kaum muslimin.
Perubahan sikap dan perilaku dari sederhana beralih ke konsumtif ketika memasuki fase-fase akhir Ramadlan, semisal selera dan pemilihan jenis makanan ,pakaian ,fashion, bahkan urusan wisata di saat moment puncak Idul Fithri sungguh telah mengubah pola pikir dan budaya kaum musimn itu sendiri. Seolah olah mau langsung melupakan ajaran mulia di bulan suci Ramadlan mereka cenderung menghargai ceremonial Idul Fithri ,padahal sejatinya Idul Fithri dijadikan moment hidup sederhana , mempertinggi nilai akal budi, mempertajam nurani serta mempersubur semaian spiritual Islam.

Syaikh Nawawi Al-Bantani ketika menafsirkan QS.                                        
Beliau menyitir perilaku dan prinsip hidup para sahabat nabi Muhammad SAW dengan mengatakan :
Shahabat-shabat Rasulullah SAW itu tidak pernah makan makanan karena kelezatannaya,tidak pernah memakai pakaian karena keindahan  dan pernak perniknya. Tetapi mereka itu makan hanya demi menghilangkan rasa lapar dan membantu mereka bisa berdiri tegak beribadah kepada Allah. Dan memakai pakaian sekedar menutupi aurat serta mejaga kondisi tubuh dari cuaca panas dan dingin “1)

Soal perubahan perilaku kaum muslimin pasca Ramdalan ini tentunya menjadi buah pikiran kita bersama. Dan dalam hemat penulis ada beberapa faktor  yang mendorong terjadinya perubahan pola hidup dan sikap mental tersebut. Berikut ini sebab- sebab tersebut disertai uraian solusinya  yaitu :
1.  Pengaruh Globalisasi Dunia
Pengaruh glabalisasi memang masih menjadi faktor utama perubahan perilaku. Utamanya merebaknya sikap hidup hedonis materialis sampai kepada sikap indvidualistis.

2.   Perilaku Para Elit Pejabat Negara dan Daerah sesuai tingkatan masing-masing.
Tingkah polah para pejabat kita yang cenderung amat individualistik menjadi contoh efektif mewabahnya sikap mental negatif ini. Kita kadang tidak habis pikir justru pejabat-pejabat yang beragama Islamlah kebanyakan yang menjadi pelakunya. Mereka ini rata-rata sudah mencapai derajat pangkat dan golongan kepegawaian yang tinggi, bahkan mereka rata-ratanya juga sudah berhaji atau malah berkali-kali haji. Tetapi justru mereka menjadi penghuni jeruji besi yang dingin (penjara)

3.  Pemanfaatan Media Publik bagi Penyampaian Pesan-pesan Moral Keagamaan yang Belum Efektif.
Masyarakat kita ini bagaimana pun masih menghargai adat ketimuran yang salah satu contohnya adalah menghargai pemimpin sepanjang peminpin itu bisa menjadi teladan.
Jika di awal-awal puasa ajakan dan himbauan menghormati datangnya bulan puasa, mengisi kegiatan keagamaan dengan amaliah yang baik di dalamnya, perlunya toleransi dan tenggang rasa terhadap orang yang berpuasa di sampaikan oleh para  tokoh nasional utamanya para pemimpin masing-masing Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Persis, Muhamadiyah, PUI, Al-Irsyad atau pun yang lainnya maka masyarakat ditinggkat bawah itu mendapat sentuhan moral sekaligus merasa terkontrol dan terbimbing jiwanya.
Hal ini amat berbeda dirasa manakala jumlah kuantitas penyampaian dakwah yang berbarengan dengan ikalan yang justeru durasi iklannya lebih banyak. Maka kesan nilai informasinya jelas terbalik. Oleh karenanya sekali lagi perlunya tampilan langsung dari para pemimpin Ormas kepada ummat organisasinya.

4.   Penamanam dan Pengamalan Kembali  Penghayatan Nilai-nilai Agama.
Tentu, diskusi panjang kita akan sia-sia saja jika unsur yang terkahir atau keempat ini terabaikan. Karena berdasarkan pengalaman di lapangan munculnya sikap yang bias terhadap agama   dikalangan masyarakat kita itu karena pemahaman dan pengamalan agama yang monoton dan miskin. Umat dengan kondisi ketaatan agama yang kurang lah yang menjadi pendorong kuat atas tarik ulurnya perpaduan dan perubahan agama dan gaya hidup masyarakatnya.
Haran kita dengan mengkritisi dan mengevaluasi keempat faktor di atas kiranya ajaran Ramadlan yang mendatangkan keberkahan, kedamaian,ketenangan dan ketaqwaan bisa terwujud. Amiiin


Foot Note : 1) Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Ibn Araby Al-Jawi,            Tafsiir Al-Muniir Fi Ma'alim Al-Yanziil Juz 2, Lubnan : Dar Al-Fikr.1980 
Ramadlan, 26-1432 H
Agustus,     26-2011M

Rabu, 17 Agustus 2011

Hadits Al-Ifki

Berita Bohong
Pelajaran Menarik Tentang Bahayanya Sifat Munafik

Hadits Al-Ifky atau berita bohong adalah peristiwa tragis yang secara khusus menyangkut martabat Siti Aisyah Ra. Dalam khazanah pemikiran Islam Sunny -secara kuat- diyakini bahwa semua perkawinan yang dilakukan Rasulullah SAW terhdap wanita yang dipilihnya adalah didasarkan atas perintah dan nilai-nilai keagamaan (mengandung rahasia hukum agama/Asraar al-Tasyri'). Begitupun ketika Nabi SAW merajut biduk rumah tangga dengan Siti Aisyah. Pernikahan ini amat sarat dengan kesejukan wahyu dan keagungan syari'at.

Siti Aisyah yang dinikahi Nabi SAW pada usia belia,karena didikan Allah melalui alam nubuwwah Rasulullah dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Sejak menikah itu dalam hati Siti Aisyah tidak ada orang yang paling  dihormati, dicintai sekaligus disayangi selain Rasulullah Muhammad SAW sendiri dan keluarganya. Peran psikologis kedua orang tuanya secara otomatis tergantikan oleh Rasulullah. Seperti halnya Siti Khadijah yang amat sempurna melengkapi kesempunaan rumah tangga dengan Rasulullah, Siti Aisyah pun dipandang cukup sempurna menemani biduk kehidupan Rasulullah SAW. Dia berperawakan sedang, ramping dan rupawan dan tentu masih belia. Sungguh amat bahagia rumah tangga Rasulullah SAW dengan Aisyah Ra.
Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).
Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.

Keteladanannya dalam membantu pemahaman dakwah Islamiyah menempatkan beliau sebagai salah satu Ummahat al-Mu'minin yang populer sekaligus utama.

Pada saat peristiwa Hadits al-Ifky ini terjadi, usia beliau Siti Aisyah Ra masih dalam hitungan belasan tahun. Sampai kemudian kabar bohong itu menimpa dirinya sebagai istri Rasulullah SAW. Tepatnya terjadi seusai perang dengan Bani Mushthaliq di bulan Sya'ban tahun 5 Hijriyyah.
Dalam peperangan ini sebagian kaum munafikin dapat menilisik masuk ke dalam barisan pasukan kaum muslimin. Atau dengan kata lain peperangan ini diikuti pula oleh orang-orang munafik.

Dalam perjalanan seusai perang itu, rombongan berhenti pada suatu tempat karena Siti Aisyah ada keperluan keluar dari sekedup (Haudaj) nya untuk satu hajat kemudian kembali. Namun tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia kembali untuk mencarinya.. Sementara itu rombongan berangkat kembali seperti sediakala dan sperti tidak terjadi apa apa, dengan anggapan bahwa Siti Aisyah sudah berada dalam sekedup itu. Setelah Siti Aisyah mengetahui bahwa sekedupnya sudah berangkat, beliau kemudian duduk di tempatnya semula dan berharap sekedupnya akan kembali menjemputnya.Kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi yang bernama Shafwan bin Mu'aththal al-Sulamy. Shofwan adalah  seorang sahabat Nabi SAW yang jika pulang seusai perang ia pulang paling belakangan. Demikian ini karena ia memiliki kebiasaan memeriksa,mencari-cari kalau-kalau ada peralatan, barang bawaan dan senjata kaum muslimin yang tertinggal.


Demi dilihatnya ada seseorang yang tertidur, Shafwan terkejut seraya membaca Istirja' ; Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'uun. Bacaan istirja' ini kemudian membangunkan Siti Aisyah Ra. Lalu Siti Aisyah dipersilahkan naik unta, sedangkan Shafwan menuntun unta itu sampai kemudian mereka berdua tiba di Madinah.

Setiba di Madinah persepsi orang berbeda-beda berdasarkan pandangan masing-masing. Maka mulailah timbul desas desus dan fitnah yang dilancarkan golongan munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Fitnah itu semakin hari semakin besar dan meluas. Mengakibatkan keguncangan di kalangan kaum muslimin. Hari-hari yang penuh kepahitan ini dilalui oleh Siti Aisyah dengan deraian air mata. Bahkan pernah terjadi dua hari satu malam air mata beliau yang mulia tidak pernah berhenti menetes hingga Siti Aisyah beranggapan bahwa tangisan itu telah memburaikan hatinya.

Peristiwa berita bohong ini begitu berat diterima oleh Siti Aisyah Ra. Sebagai orang yang masih muda belia dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mewakilkan hak bicara dari persoalan ini kepada kedua orang tuanya Abu Bakar Shiddiq  dan Ummu Rumman Radliyallahu Anhuma dan berserah diri pada putusan Allah SWT.

Lebih dari satu bulan lamanya Nabi Muhammad SAW mendiamkan Siti Aisyah Ra, dalam pertemuan-pertemuan konfirmatif pun Nabi Muhammad SAW menjauhkan diri dari tempat duduk Siti Aisyah Ra. Air muka Nabi Muhammad SAW sendiri masam dan kusut. Lebih parah lagi peristiwa berita bohong ini hampir menyulut perpecahan dan perang antara suku Aus dan Khazraj, perpecahan dalam keluarga mulia Abu Bakar Shiddiq Ra karena menyeret nama Misthah ibn Utsatsah (anak bibi dari Abu Bakar Shiddiq Ra) ke dalam golongan Abdullah Bin Ubay Bin Salul. Namun Allah Maha Waspada dan masih melindungi kesucian Ahl al-Bait dengan turunnya QS.Al-Nuur : 24 yang menegaskan tentang kehormatan dan kesucian Aisyah dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Siti Aisyah benar, tidak salah dan terhormat serta mulia namanya. sedangkan golongan munafik adalah tercela hina serta mendapat siksa baik dunia lebih-lebih akhirat.


Dari fenomena Hadits Ifky ini Allah kiranya memberikan keadilan. Dengan izin dan kehendak-Nya Misthah di akhir hayatnya buta, Hisan menjadi buta dan lumpuh sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul dihukum langsung oleh Rasulullah SAW dan neraka menanti Ibn Ubay.





  • Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhary, Shahih al-Bukhary Juz 2 . Mesir : Maktabah Nashiriyyah,tt.
  • Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Ibn Araby Al-Tanari Al-Jawi, Al-Tafsiir al-Munir Li Ma'aalim al-Tanziil.Libanon : Dar Al-Fikr, 1980

Selasa, 16 Agustus 2011

FASIQ KAFIR DAN MUNAFIK

Anda mungkin pernah mendengar istilah itu bukan ? Ya, ketiga kata tersebut lekat dengan kondisi jiwa kita sebagai manusia biasa. Dalam interaksi sosial, kita sering menjumpai dan merasakan dampak ketiga sifat tersebut. Terkadang memberi kesan menjengkelkan, kebencian mendalam atau bahkan ujud dari nilai keterpaksaan bahkan keputus asaan. Jika yang melakukannya kita sendiri maka tentu kesan yang muncul adalah khilaf kita, keterpaksaan atau kondisi di luar kemampuan seseorang hingga harus berbuat seperti itu.
Orang Fasiq adalah orang yang mengetahui dan meyakini supermasi nilai kebenaran, tetapi dalam kehidupan ia malas mengikutinya terutama jika bertentangan dengan dorongan nafsu syahwat atau kesenangan emosi belaka. Demi kenikmatan hidup ia enteng saja untuk melanggar nilai-nilai kebenaran, meski ia tahu bahwa hal itu buruk (hedonia). Meski demikian ia berharap hanya dirinya yang fasiq dan di dalam hatinya ia berharap agar anaknya tidak menirunya kelakuan buruknya kelak.

Adapun orang kafir adalah kebalikan dari orang mukmin. Jika orang mukmin berpegang konsisten terhadap kebenaran yang yang diimaninya dalam keadaan apapun, orang kafir konsisten dalam hal tidak mempercayai kepada nilai-nilai kebenaran. Secara terbuka ia menyatakan tidak percaya kepada Tuhan, kepada dosa dan kepada kebajikan. Ia hidup menurut ukuran budaya di mana mereka berada, tidak percaya kepada nilai yang bersumber dari wahyu gaib. Ia berbangga dengan kekafirannya dan berusaha mengajak orang lain bergabung dalam kelompoknya seraya memperolok-olok kepercayaan orang beriman.

Sedangkan orang munafik, karakteristiknya dapat disebut orang bermuka dua, berbeda antara kata dan perbuatannya. Jika orang kafir secara terbuka menyatakan kekafirannya, orang munafik justru menyembunyikan kemunafikannya. Secara lahir ia perlihatkan perilaku seakan-akan ia sama dengan orang mukmin yaitu mempercayai nilai-nilai kebenaran, padahal yang sebenarnya ia tidak percaya dan berusaha melecehkan kebenaran di belakang penglihatan orang mukmin.

Orang munafik tak ubahnya musuh dalam selimut, sehari-hari ia bersama kita padahal ia memusuhi kita, mencuri peluang untuk mencelakakan kita. Tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu (1) jika berkata dusta, (2) Jika berjanji ingkar, (3) jika dipercaya khianat.

Karena kualitas itu bersifat psikologis, maka jarak antara satu kualitas  dengan kualitas yang lain tidaklah seterang warna hitam dan putih. Oleh karena itu seorang mukmin -tentu selain para sahabat Nabi SAW-boleh jadi pada dirinya terdapat karekteristik fasiq, nifaq atau bahkan kufur. Seorang mukmin ketika sedang tersinggung misalnya, karena dorongan ingin mempertahankan harga dirinya bisa saja terjadi mengalami distorsi iman, yakni imannya mengalami penipisan sehinga ia melakukan perbuatan kufur. Sama halnya seperti orang pandai terkadang melakukan perbuatan bodoh.



  • Buku Pedoman Pengelolaan Majlis Ta'lim ; Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2009