Sabtu, 30 Juli 2011

Hasud Sebagai Penyakit Hati

Pepatah menyebutkan  manusia adalah hewan yang bergerak. Ini memberi penjelasan kepada kita bahwa untuk mempertahankan hidupnya manusia harus bekerja keras dan berjuang dari mulai mengurusi dirinya sendiri, keluarganya sampai urusan masyarakat dalam lingkup sosial yang lebih luas.

Mau tidak mau kita menjalani hukum alam (sunnatullah) yakni kompetisi atau persaingan hidup sehari-hari. Persaingan bisa terjadi dalam berbagai bentuk .Ada yang tertutup, terselubung ada pula yang terbuka. Persaingan bisa juga terjadi dalam  masalah yang remeh temeh sampai masalah yang  pelik nan serius. Dan persaingan bisa terjadi di mana saja, di sekolah, pasar, di kantor, di organisasi dan di sisi kehidupan lainnya.

Dalam menjalani kompetisi seperti ini, selaku muslim kita dituntut untuk bersikap,bertindak dan berfikir positif seperti sabar,ulet,tekun,komitment tinggi,ikhlas,sederhana dan husnudhan. Karena kita sedang memasuki medan kehidupan yang berat,sementara hidup ini tidak selalu hitam putih,tetapi terkadang juga abu-abu.
Pun demikian  ketika kita menghiasi diri dengan perilaku terpuji ini pada saat yang sama kita juga harus menanggalkan sifat dan perilaku tercela seperti gila hormat,serakah,culas,dholim (koruptif), riya dan hasud.
Semua perilaku tercela seperti tersebut di atas wajib kita tinggalkan,terutama hasud. Karena jika kita memaklumi ujud kompetisi, mestinya kita juga harus mengakui adanya pihak yang unggul atau kalau boleh dikata sukses. Dengan demikian tidak ada dasar bagi kita untuk menjadikan kompetisi sebagai alasan bertindak hasud, justru sebaliknya kompetisi harus dimaknai secara positif hingga dapat memacu kita untuk meningkatkan kualitas diri.

Secara devinitif hasud mengandung arti dengki. Sedangkan secara istilah hasud berarti menginginkan hilangnya nikmat yang dimiliki oleh orang lain atau mengharapkan nikmat yang dimiliki oleh orang lain itu lenyap,hancur atau hilang  bahkan berpindah pada dirinya.

Ulama ahli hikmah berpandangan bahwa seseorang yang merasa senang musuhnya mendapatkan keburukan maka cukuplah ia dianggap menyukai kejelekan dan orang yang menyukai keburukan nilainya amatlah buruk.

Lebih jeleknya lagi manakala seseorang suka melihat saudaranya celaka dan ditimpa keburukan. Adapun yang paling jelek dari semua itu adalah orang yang tidak suka melihat temannya memperoleh anugrah dan kenikmatan.

Ulama salaf berkata : " Iri hati dan dengki adalah dosa pertama kali makhluq langit (yang dilakukan Iblis) terhadap Allah karena Iblis tidak mau menghormat kepada Adam AS yang telah Allah ciptakan dengan kekuasaan-Nya. Begitupun dengki adalah dosa pertama makhluq bumi (yang dilakukan oleh Qobil) terhadap Allah SWT karena Qobil anak Adam AS tersebab dengkinya tega membunuh saudaranya sendiri (Habil).

Sebagai seorang muslim haram bagi kita berperilaku hasud. Karena merugilah orang yang memiliki perilaku ini. Hasud menjadikan seseorang tidak tenang, hatinya selalu sakit dan terguncang. Malah dalam kondisi tertentu hasud bisa menyebabkan orang jadi rusak badan rusak pikiran. Mata hatinya pun tebutakan. Qalbunya selalu didorong dan dirongrong oleh pikiran negatif. Pada kondisi kejiwaan seperti ini mata bathinnya  tertutup mati,tak berfungsi lagi. Kondisi selanjutnya  adalah munculnya dorongan-dorongan negatif yang menguasai bathinnya.
Biasanya orang yang terjangkit penyakit  hasud memiliki indikasi bathin seperti ; Pertama, selalu sibuk merintangi orang lain yang berjuang meraih kesuksesan akibatnya lupa untuk memajukan diri sendiri. Kedua,merasa tidak senang dengan keberhasilan yang diraih orang lain, berusaha melenyapkannya dan berharap keberhasilan itu akan berpindah pada dirinya. Dari dua indikasi itu,biasanya orang yang hasud itu manakala ia menerima respon dari dalam dirinya ia tidak mampu mengendalikan nafsunya secara wajar, hingga bisa saja kepuasan batin untuk berbuat negatif itu terpenuhi, namun tetap saja bahwa tingkah lakunya itu tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Orang yang dengki itu ketika sudah tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan nafsunya, keseimbangan kepribadiannya pun hilang dan ia tidak mampu melihat suatu masalah dengan benar dan teliti.

Waspadalah terhadap sifat hasud ! Karena ia bisa mendistorsi iman kita. Dan semestinya kita tidak perlu berperilaku hasud, karena hasud tidak dapat melenyapkan kesuksesan orang lain yang dihasudi, malah akan menyiksa jiwa pelakunya sendiri.

Kemudian bagaimana kalau ada orang yang hasud kepada kita, apa dan bagaimana sikap serta tindakan    kita ? Memang anehnya perilaku buruk ini justru dilakukan oleh orang yang dekat atau malah dekat sekali dengan kita.
Bila ada orang berbuat hasud pada kita tentunya kita tidak boleh membalas dengan perbuatan serupa. Di samping itu berikut adalah  tips menghindari resiko lahir bathin bila orang lain dengki pada kita :
Pertama, bersabar dan tawakkal yng sungguh-sungguh kepada Allah SWT seraya memohon perlindungan pada-Nya dari sifat hasud dan akibat buruk orang yang hasud (QS.Al-Falaq : 5)
Kedua, berinabah,memperbanyak taubat kepada Allah. Setiap nikmat dan anugrah yang kita terima dari Allah SWT pada hakikatnya adalah ujian (fitnah),  karena kita perlu waspada dan senantiasa bersyukur. Imam Aly bin Abi Thalib KW berkata :"( Khiyaarukum Kullu Muftanin Tawwabun) artinya sebaik-baik kamu adalah yang sering mendapat ujian (fitnah) namun banyak bertaubat".

Ketiga dan ini yang cukup berat, yaitu tetap berbuat baik pada orang yang dengki kepada kita. Jadilah kita laksana  pohon yang berbuah lebat yang ketika dilempar batu berbalas dengan memberi  buah. Pepatah mengatakan : (Kun Ka al-Syajari Yurma Bi al-Hajari Fa Ya'uudu bi al-Tsimari). Jadi upayakan kita tenang karena Orang iri itu Tanda Tak Mampu.

(Sumber : Adab al-Dunya Wa al-Diin oleh : Aby al-Hasan 'Aly Bin Muhammad al-Mawardy
dan Tahdziib al-Akhlaq oleh : Ibnu Miskawaih)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan anda berkomentar dengan santun dan baik dengan tidak melakukan komentar spam